Cerita-cerita ttg Pernikahan

Saya heran dengan beberapa teman wanita saya yang ‘katanya’ takut menikah. Padahal tindakan mereka kadang -tanpa mereka sadari- kontradiktif lho… :lol:

Alasan takutnya, karena ini-itu-begini-begitu, pokoknya klasik banget sering saya denger. Banyak cerita2 menakutkan lah. Mulai dari urusan ranjang yang udah beda antara pacaran/penganten baru dan saat jd suami-istri, sampe urusan anak yg menurut saya cukup ekstrim: di mana suami biasanya gak terlalu peduli dan pengen anaknya gak perlu ada, benci sm anaknya. Wew.. :roll:

HEY! Kamu punya orang tua gak? Yakin gak kalo bapakmu sayang kamu sebagai anaknya? Trus, sebegitu ketakutannya kamu sama cerita2 modern* setelah nikah itu, apa kamu lihat juga hal2 tersebut pada ortu kamu?

Apakah kamu dari keluarga yang tidak harmonis?
Kalo iya, wajar kamu takut menikah karena melihat orang terdekatmu seperti itu.
Tapi kalo enggak, menurut hati saya sebagai wanita juga, sebenarnya keengganan menikah itu yang utama bukan karena faktor2 cerita menakutkan tsb. Tapi lebih karena faktor-faktor yang memang belum memungkinkan untuk menikah. Misal: beda keyakinan, pasangan belum dirasa ‘he/she-is-the-one’, pasangan belum terlalu direstui, ada syarat ini itu sebelum nikah dr pihak pasangan/ortu/keluarga, merasa belum siap scr financial, dll.

Dan salah satu sebab yang sebenarnya ya emang belum siap mental aja, masih goyah. Jadi tidak perlu mengatakan TAKUT untuk menikah kalo gitu, tapi memang BELUM SIAP.
Belum menikah aja udah takut denger cerita2 tsb dari orang lain yang tidak di lingkungan kita, lha nanti kalo udah menikah trus ada orang yang bilang suami/istri kamu begini-begitu apa kamu langsung percaya juga? Kalau dari awal paradigmanya sudah terbentuk penuh ketakutan, siap2 aja jadi kenyataan. Sugesti. ;) *lho kok malah tambah nakut-nakutin* :lol:

Beberapa dari cerita2 horror tsb memang benar adanya, dan kalau itu dianggap sebagai masalah, apakah seumur hidup harus lari dari masalah?
Jadi single, tidak menikah, memang bisa menghindarkan diri dari masalah2 pernikahan tsb. Tapi tentunya tidak menghindarkan diri dari permasalahan sebagai single yang juga tak kalah horror donk. Dan, yakin bisa bahagia seumur hidup sebagai single? Ask yourself. ;)

Padahal gak hanya dalam pernikahan aja ada masalah2 besar. Dalam hal keluarga, pekerjaan, banyak juga masalah besar yang berhubungan dengan orang lain.
Kalau takut di pekerjaan nanti ‘disikut’ temen, takut merugi, takut ditipu partner: ya udah gak usah kerja aja seumur hidup. Bisa terbebas dari masalah2 pekerjaan kan. Tapi tetep ada masalah sebagai pengangguran. *kecuali dpt warisan yang 7 turunan gak habis* :lol:
Begitu juga kalau takut menikah, karena cerita2 horror tsb, ya udah gak usah menikah aja seumur hidup, beres kan. Lalu terjamin bisa terhindar dari masalah2 relationship dgn pasangan? ;)

Intinya sih, apapun jalan yang dipilih, tidak akan mulus2 aja. Jalan tol di Jakarta aja sering macet.. :roll: *halah gak nyambung*.
Kalau gak mau menghadapi masalah, buat apa hidup?! ;)

***

*Saya sebut cerita-cerita modern, karena jaman dulu jarang ada cerita begitu. Seiring berkembangnya jaman, banyak wanita modern yang menceritakan hal-hal menakutkan tersebut.

Comments (3)

16 Mei

Setahun yang lalu, 16 Mei 2008. Kenalan di BHI.
Nothing special. :mrgreen:

16 Mei 2009.
3 weeks & 6 days until our wedding ceremony. :oops:
Hyaa…. *dagdigdug*

Comments

Kawan dan Bukan

Di saat seperti ini, kadang kita jadi tahu mana yang kawan baik, mana yang bukan kawan baik.
Dalam hal ini saya tidak suka menggunakan istilah kawan dan lawan. Karena memang bukan lawan, bukan orang yang harus dilawan.

Tidak bisa menyenangkan hati semua orang.
Saya juga tidak bisa membuat semua orang menyukai saya.

Tapi, saya tetap bersyukur masih punya lebih banyak teman yang masih baik pada saya. *pelukpeluk*

Comments (3)

Milih Siapa Ya?

Gak kenal semuaaa…
:roll:

Comments (1)

Looking for…

i’m looking for a new job, maybe.. (unsure)

setelah menikah nanti (yang tinggal 2 bulan lagi!!! :o ), saya memutuskan cabut dari rumah ortu dan meninggalkan pekerjaan membantu usaha ortu ini.

jadi, saya akan kehilangan setengah kerjaan saya. kerjaan setengahnya lagi masih ada, tapi penghasilannya hanya cukup buat jajan. dan itu memang belum saya seriusi. sebulan belum tentu nyentuh sekali. :D diseriusin bisa aja, tapi harus fulltime, dan tentu saja nantinya saya bagaikan tidak bekerja, dan hasilnya juga tidak bisa datang dengan cepat. :roll:

__(’Read the rest of this entry »’)

Comments

Friends…

Pekerjaan saya yang di rumah, dan teman-teman lama yang terpisah jarak -dan saya kira sudah tidak peduli pada saya-, kadang membuat saya merasa sendirian. Saya jadi banyak melakukan hal-hal sendirian, dan hanya sering berdiskusi dengan kekasih saya saja.

Tapi banyak hal belakangan ini yang membuat saya sadar dan merasa tidak sendirian lagi. Ada beberapa urusan yang membuat saya sering berkomunikasi dengan teman-teman saya dan bahkan bertemu mereka. Banyak kejadian kecil yang membuat saya merasa bahwa masih banyak dari mereka yg menyayangi saya *lebay?*. :mrgreen:

Juga bahwa rasa care itu memang tidak melulu harus ditunjukkan terus-menerus karena masing-masing orang punya berbagai hal pribadi sendiri-sendiri. Saya sendiri pun sebenarnya seperti itu, masih sayang dan peduli dengan teman-teman saya, tentu saja tidak bisa menunjukkannya terus-terusan, tapi berusaha membantu jika ada teman yang memang membutuhkan saya.

Terima kasih, temans…. Untuk segala perhatian dan bantuannya pada saya. :D

**

Urusan pra nikah ini memang ternyata banyak hikmahnya. Tidak hanya belajar bagaimana memahami hubungan dengan pasangan, tapi juga dengan keluarga, teman-teman, dan orang-orang baru.

:)

Comments (1)

« Previous entries