Membuat saya harus banyak belajar memanage waktu dan orang. Akun yang harus saya monitor tidak sedikit. Anak-anak yang harus saya awasi pekerjaannya juga jumlahnya sudah lebih dari jari-jari di tangan ini. Saya juga harus mengarahkan mereka agar bisa ‘berkepribadian ganda’ saat bertugas.
Dan yang membuat saya harus belajar ikhlas adalah, kalau harus kehilangan seorang anak saya. Awalnya saya gak rela kalau semua yang sudah didapatkan dari tempat ini harus dibawa keluar ke tempat lain. Apalagi kalau dia keluar karena sengaja dibajak untuk membuat tim serupa seperti yang sudah saya bikin di sini. Hahaha.. lebay deh
Tapi ini akhirnya membuat saya buka mata pada realita di dunia kerja. Hal seperti ini gak akan bisa dihindari. Bahkan saya sendiri pun bisa saja melakukan hal itu nantinya. Tantangan, harus bisa beradaptasi, dan inovatif.
Eh tunggu, saya pun bisa saja keluar atau dibajak tempat lain? Yup bener! Sudah ada beberapa yang menawarkan. Tapi seperti kata mas boss, tempat kerja kita ini memang seperti sekolah. Setidaknya saya menganggapnya begitu. Saya merasa baru akan naik kelas, belum bisa pindah sekolah. Banyak yang masih harus saya pelajari di sini, banyak PR dan ujian yang harus saya selesaikan.